Pages

Lorem ipsum

slider

Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Awal Ku Dapat Dirinya

Senin, 24 Februari 2014

Dulu aku tak pernah berpikir aku akan berada di tempat ini, tempat dimana masa depanku akan dimulai dengan sebuah tujuan pasti.

          Sejak dahulu aku tak pernah mau mengerti kenapa aku dikatakan sebagai anak culun yang hanya bisa di olok-olok dan dipermalukan, tapi aku yang sekarang bukan lah aku yang dulu. Ku tetap asik dengan kehidupan dan realitas kesibukan ku yang tiada akhir. Namun aku tetap percaya suatu saat nanti aku percaya semua orang akan memandangku dengan penglihatan yang berbeda.
         
Hari ini pertama aku memasuki tahun ajaran baru setelah lama mengecap liburan panjang hasil kerja keras aku selama satu tahun. Juara satu, lumayan lah buat ku. Dari kejauhan seorang wanita yang sangat aku kenal akan sifat nya yang manja segera membangunkanku dari lamunan pa njang ini.
                    “Kakak,,,akhirnya kita ketemu lagi. Liat aku udah kelas dua kak”.
Hana, dia lah yang beberapa waktu ini mengusik batinku akan kebutuhan ku sebagai lelaki yang inigin memiliki rasa kasih sayang. Sikap nya amat manja, namun di dalam nya tersirat keteguhan hati yang kadang membuatku juga merasa bahwa dia bukan lah wanita yang lemah.

“Haha...udah kelas dua ya kamu..perasaan kamu kamren-kemaren masih jadi anak kutu, kecil dan terkesan bloon”
“Iih jahat kali lah kamu kak..dasar kakak ancur, bilang orang yang enggak-enggak. Fitnah tuh namanya kak. Ingat umur kamu kak”.

       Aku baru sadar akan candaan Hana tersebut mengingatkan aku kalau aku menderita kelainan katup jantung bawaan dari lahir. Dan tidak seorangpun mengetahui akan hal ini. Tapi biarlah, toh umur aku ini kepunyaan Tuhan juga. Aku berharap hidup aku yang entah sampai kapan ini tak pernah aku lalui dengan penyesalan. Semoga saja

        Hari itu hari senin saat semua pelajaran membuat aku muak terutama pelajaran fisika, ditambah lagi dengan teman-teman sekelas yang kerjanya hanya membuat keributan saat pelajaran diterangkan. Benar-benar muak aku dibuatnya. Secara tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang mungkin bakal mengurangi rasa muak ku ini. Chatting lewat “Whats app” dengan Hana. Benar saja dia lagi merasakan hal yang sama, bosan dengan pelajaram yang banyak nya membuat kepala pusing dan perut jadi mual.
          Sengaja saja aku atur pertemuan dengan Hana dengan alasan aku ingin mengajak nya mencari sebuah buku di perpustakaan sekolah. Pucuk dicinta ulam pun bicara, Hana mengiyakan ajakan ku. Saat bel istirahat berbunyi dengan keras, aku langsung tancap gas ke pustaka. Kucari-cari sejauh mata memandang, rupanya aku liat sebuah makhluk yang sedang aku cari.
          “Hana,,,dari tadi kakak cari-cari kamu juga, ternyata kamu disini. Kita kan janjian d pojok pustaka dekat sana.”
          “Maaf kak,,,aku bentar ini nyari buku kak,,Kata nya ada buku baru yang asik,,,Ya aku cari itu,,,Daripada nungguin kamu kak.”
          “Jadi kakak mu ini gak penting ???”
          “Tepat sekali.....Hehehe becanda kali kak.”
          “Awas kamu tak jitak.”, aku menggerutu.
               Beginilah cara kami komunikasi dalam keseharian, layaknya seperti anjing dan kucing yang tak pernah rela untuk bersatu.
                Satu minggu telah berlalu dalam sibuknya dunia. Hari ini adalah hari paling sibuk yang pernah ada dalam memori hidup yang aku jalani. Acara “PENSI” yang melibatkan keikutsertaan kami dari kelas dua belas. Muak, mual, muntah mungkin jadi sad ending yang hanya menunggu waktu untuk di keluarkan.
                “Aray,,, sudah kamu koordinasikan acara PENSI kita dengan pihak tata usaha ??” Suara bu HANI mengusik kerja ku yang sedang konsentrasi dengan persiapan acar hari ini.
“Sudah buk,,,,pokoknya sipp deh acaranya,,, O iya buk,,acara buat besok gak da MC nya buk,,Gimana ini ya buk ????”
“Aduh,,gimana sich kamu sebagai penanggung jawab acaranya ???..Kamu niat gak bikin acara ini sukses ??”
“Sudah saya cari buk,,tapi anak-anak pada takut buk,,”
“Takut apa ??”
“Takut gak bisa bawain acara buk”
“Ibu gak mau tau,,,Besok semua masalah ini harus selesai,,”
“Iya buk”
Pusing aku harus memikirkan masalah ini. Ditambah lagi kedatangan hana dengan sifat yang sangat manja membuat kepala aku tambah sakit
“Kakak jeleg,,,bantuin aku blajar fisika kak,,tentang hukum “ohm” kak.”
“Hana,,kakak lagi sibuk. Belajar sendiri aja ya”
“Ichhh,,,pokoknya kakak harus bantuin aku”
“Kakak sibuk dek”,,aku menahan emosi”
“Kakak bantuin gak ??”
“Udah aku bilang aku sibuk,,bukan kamu aja yang harus aku urusin..Pergi aja kamu,,,Aku pusing”,,aku tak mampu lagi mengendalikan emosi..
                Hana pun berlari sambil terisak tertahan. Aku memang tak pernah bersikap keras apalagi sampai menghardik Hana.
                Malamnya aku berinisiatif untuk meminta maaf dan merebdahkan diri demi sebuah kata maaf.
***Ku lepas semua yang ku ingin kan,,tak akan ku ulangi,,****,,,Terdengar nada dering dari ponsel milik Hana dan berakhir dengan “NOMOR YANG ANDA TUJU ENTAH KEMANA,,,SILAHKAN HUBUNGI BEBERAPA HARI LAGI,,,”
                  Sampai acara PENSI usai dan beberapa minggu setelahnya, aku tak pernah lagi melihat sikap manja Hana yang selalu ada d hadapanku. Apa segitu marahnya dia sama aku ??
                Jujur aku kangen sama dia, aku ingin melihat senyum manis dan tatapan nya yang sangat polos mirip mata bayi itu memancarkan sinarnya padaku. Tapi sepertinya itu hanya ada dalam khayalan ku saja. Aku akui waktu aku membentak dia adalah dimana aku merasa sebagai orang yang paling bodoh. Seharusnya aku bisa mengendalikan emosi. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.
                Sampai suatu saat penyakitku bertambah parah dan aku harus di opname di rumah sakit untuk waktu yang lumayan lama. Ini jelas merupakan pukulan telak buatku. Di satu sisi aku tak mau menyerah sama penyakit ini yang ujung-ujungnya bikin aku sengsara. Di sisi lain, aku harus menerima kenyataan kalau kemungkinan aku sembuh hanya 10 persen. Ini jelas mengusik batin terdalamku
                Sebelum aku benar-benar menyesal dan tak dapat berbuat apa-apa, aku ingin melakukan satu hal yang mungkin jadi hal terakhir yang aku lakukan. Aku ingin membuat Hana tersenyum lagi, hanya senyum manis nya yang aku harapkan dan secercah maaf darinya.
                “HARI INI AKU JUJUR MENGAKUI AKU SAYANG SAMA DIA,,,SANGAT SAYANG,,DAN  GAK BAKAL MAU KEHILANGAN DIA”
                Aku juga dengar kabar dari teman-temannya kalau Hana akhir-akhir ini sedikit berubah. Dia lebih suka menyendiri dan terkesan tertutup. Aku semakin khawatir apakah separah ini kah dampak perbuatan ku yang melukai dia.
                Dan tekadku sudah bulat untuk membuat dia tersenyum seperti dulu lagi.
                Hari itu, SENIN pertama di bulan Ramadhan,,aku kabur untuk sementara dari rumah sakit dan menuju sebuah bukit di belakang rumah nenekku yang dikenal dengan “bukit cinta”. Aku berpura-pura sebagai teman hana yang menyuruh dia ketemuan di bukit itu. Dan ternyata hana setuju.
                Sesampainya disana,Hana terkejut mendapati seorang pria yang sampai saat ini masih membuat hatinya luka, itu aku. Saat dia ingin berlari, cepat Ku pegang tangannya dan ku katakan:
“Hana,,kakak tau dari dulu kamu ingin melihat bintang jatuh kan ??..Kakak tau daerah ini paling strategis untuk itu.Kakak mohon kamu disini dulu buat nyaksiin satu bintang yang akan jatuh,,di hati kamu”
                Dan prediksi aku cukup tepat,,ada dua meteor yang seolah salin berkejaran,,dan indahnya...Hana hanya terpana menyaksikan itu..Dan di saat ia ingin berkata sesuatu dan menoleh ke arahku, dia mendapati aku yang sudah roboh tak sadarkan diri.
                “Kak...kakak....Maafin Hana kak,,Hana gak butuh kakak ngelakuin kayak gini sampai harus mengorbankan hidup kakak..Hana sayang kakak,,,Hana gak mau kakak ninggalin Hana...kakakk
KAKKKKKK,,,,,,Kakakkaaaaaakkkk!!!! ”
                Namun semua sudah terlambat,,aku yang sedang dalam kondisi paling lemahku,,hanya terhampar di pangkuan Hana,,,Dia menggendong ku yang lumayan berat buat dia hingga rumah sakit. Setiba di rumah sakit, Hana harus menerima kenyataan kalau penyakitku berada  pada stadium akhir,,dan aku direkomendasikan dokter untuk menjalani pengobatan di Jerman untuk kurun waktu yang cukup lama. Aku jujur mendengar kenyataan ini dimana aku meninggalkan dia untuk waktu yang mungkin akan merubah semuanya..
                Berat hati Hana melepasku di bandara saat ku akan terbang ke Jerman,,hana menitipkan “SHALL” buat ku...
“Kak,,ini shall buat kamu yah,,biar gak dingin di sana,,”
“Mmmuuachhh”,,satu kecupan nya di kening ku yang sangat membuat hatiku tenang..
“Hana nunggu kakak di sini 3 tahun lagy ya kak,,awass kalo gak sembuh dalam 3 tahun ne,,,aku gak mau nunggu kamu lagy kak,,,”
“iya sayang..kakak janji...ICH LIEBE DICH Hana...TE AMO IMMORTAL”
“Hiks hiks hiks,,,,aku bakal kangen sama kamu kak,,,hiks hiks hiks”
“Ehh adek aku gak boleh nangis,,,cengeng tuh namanya,,,Kak pergi dulu ya,,,,,Assalamualaikum Sayangg”
“Hiks hiks Wa a laikum salam kak hiks hiks”
Dan hari ini terakhir aku melihat Hana,,aku gak tau apa aku bisa melihatnya lagy,
Pesawatku telah terbang tinggi menembus awan bersama cinta yang ku bawa,,dan aku melihat cintanya dari balik hujan resah jiwaku
,”,SATU HAL YANG AKU BANGGA,,,AKU BERUNTUNG SEMPAT MEMBUAT DIA BAHAGIA”

Coretan Prosa BETA CINTO ATI 2

Rabu, 01 Agustus 2012




Ombak yang menghampiri pantai menguapkan kenangan yang kuletakkan diatas pasir.. Menguap, pilu..

Malam ini aku  kembali teringat dia. Saat malam bagai suatu ruang yang mempertemukanku denganmu, meski hanya dalam kata-kata yang terbang lewat udara. Seperti biasa, diam bagaikan matahari yang berjanji mengawali pagi, diammu sebuah kepastian. Engkau bisu dan apa dayaku untuk berkata-kata dalam komunikasi dua arah denganmu. Dari sudut mataku, aku mengawasimu bersama rasa dan tingkah yang berganti : kagum, pasrah,  kadang sedikit benci atau suka. Bolehlah kubilang kau seperti patung, mahakarya indah namun dingin, terasa dingin padi jemariku. Menarik dengan goresan cat berbagai warna, namun diam dalam piguramu sendiri. Namun, ada mereka yang beruntung bisa menangkap sinar matamu dalam kegelapan.

Aku selalu ingin menjadi orang yang bisa menangkap sinar matamu meski dalam gelap. Kubawa kunang-kunang malam untuk menyelami matamu. Entah karena luasnya hati dan pikiran dimatamu itu, untuk menyentuh gerbangnya saja aku tak bisa. Atau karena cahaya kunang-kunang ini terlalu redup hingga mati sebelum aku benar-benar memasuki pintu utama, namun bersyukur aku bisa melihatnya samar.. Ya, samar kulihat lembaran besar bertuliskan pribadimu. Aku masih mengingatmu utuh dalam kebingungan, ketidakpastian yang pasti, dan kesakitan yang tak pasti. Ah lupakan saja..

Mungkin karena aku beruntung melihat sinar matamu meski samar, kusadari ada sedikit suasana tenang bila kita satu ruang dan satu. Masih kuingat jelas matamu, perbincangan maya nan singkat namun langka luar biasa, dan ruang baris yang menyamakan ruang berpijak kita.

Benar bahwa malam menyuguhkan kilasan kenangan dan rindu yang terasa lebih sengit. Aku semakin terbawa kebingungan seiring rasa rindu yang bagai ombak pasang surut. Membuat pantai hanya bisa menerima, basah akan harapan handmade pada pasang yang datang dan kering bagai semua bahagia dibawa surut menjauh ketengah laut. Terkadang kau datang bersama pasang, lalu menghilang bersama surut. Lalu, aku bisa apa. Terakhir kudengar suara yang melintas dikepalaku, sebuah bisikan : Nikmati saja. Ya, sekarang aku menikmati saja. Pedihnya rasa yang tak sampai dan secuil bahagia tak beralasan dari kenangan lama. Hari-hari lalu dan beberapa percakapan yang aku mulai lewat ketikan kata yang terbang lewat udara, berkomunikasi satu arah begitu saja. Sesibuk apa hingga hanya untuk satu balasan kata tak ada? Atau hanya padaku, kamu bertingkah demikian? Sudahlah, aku kembali tak mau berurusan dengan kata kenapa dan jawabannya.

Kemarin adalah masa dimana aku masih bisa tertawa atas lelucon tentang dirimu, namun kini aku merasa sedikit menyesal. Setiap bagian hidup adalah untuk merubah keadaan. Aku ingin kembali pada masa dimana aku hanya mengenal namamu saja : tanpa rasa dan biasa. Tak lagi seperti keadaan lalu dan yang masih sampai sekarang : aku melihat samar sinar matamu dan keadaan menjadi tak biasa. Ya, semoga keadaan berubah cepat menjadi lebih baik, bagiku..

Dan kini......

Juli..
Semoga keadaan berubah cepat menjadi lebih baik, bagiku.. Ya, sekarang keadaan telah berubah. Ruang dan waktu benar nyata untuk memisahkan kita. Hidup merubah ucapku pada wujud nyata : dengan sebuah perpisahan, keadaan akan berubah. Ya, tiba masanya aku benar-benar tak lagi punya harap untuk menatapmu hingga suara dosen menghilang dan kita semua membubarkan pertemuan pada hari itu. Ku bawa pulang kilasan ingatanku akan gerakmu, rupamu dan kubiarkan harap tumbuh untuk merekah pada esok lagi, untuk memandangmu layaknya hari kemarin.

Malam ini rindu terasa pedih tak biasa. Mungkin karena esok pagi akan berbeda. Aku telah pada jalan yang kutegaskan di persimpangan itu. Sendiri memutar haluan untuk kesejatian mimpi yang kujaga.

Jika hanya dengan menikmati masa yang telah berubah menjadi kenangan aku bisa bahagia, tak apa. Ku letakkan keseluruhan hal tentangmu yang aku punya pada lembaran hari yang indah, penuh warna-warni senyum gelak dan tawa meski hanya kasih dalam diam. Hmm, setidaknya sampai musim berganti..

By : BETA CINTO ATI (HMSI 1)

Coretan Prosa by : Beta Cinto ATi (HMSI 1)


Kutemukan airmata dalam derai hujan yang turun melintasi bumi malam ini. Menyesakkan dada, lansung kuteringat pada kisah pilu yang ada.

Bagai titik hujan yang mendamba bertemu kelopak bunga, namun tak pernah berkuasa untuk demikian hingga hanya berakhir pada rindu yang lebih baik menguap liar begitu saja. Entah apa pemikiran baik hingga rindu kandas tanpa bekas, mungkinkah titik hujan lansung jatuh mengambang tak tertahan pada pangku kelopak, menuruni tangkai menembus duri yang membawa sakit yang tak terperi.

Kepada siapa titik hujan akan menunggu, sedang kupu-kupu tak bertangan untuk menyelamatkan.

Seperti rasa sukaku padamu yang tumbuh dalam keraguan yang pasti. Entah apa yang kukejar, entah apa yang kuharap, sedang kau hanya sanggup membisu seperti yang telah kau janjikan dengan waktu.

Aku berpikir mungkin tak apa sedikit usaha tak bernada bisa mengundangmu untuk berucap sekalimat kata. Namun, hatikupun tak cukup lama ingin mencoba-coba. Bukan karena malu-malu, namun aku tahu takkan ada akhir yang berubah dari cara ini. Aku tak cukup lincah dan pandai memainkan peran, pun kau tak begitu peka untuk melihat dan mendengar. Telah lama kuputuskan untuk tidak bertahan. Biarkan saja cerita berganti dengan keadaan yang kuubah. 

Tapi seiring waktu, tak ada kebaikan sebagai perubahan. Aku tak bisa mendengar suara lain meski telah kumatikan lagu tentang dirimu, mata hanya terbuka untuk satu kilas gerak-gerik saja dan itu kaulah yang punya. Hatiku tetap tak terisi meski seluruh huruf-huruf cerita tentangmu telah kubuang di masa lalu. Namun, masih lekat terasa kakiku berpijak pada senja indah kemarin. Bayangmu masih ada meski tak pernah kupanggil dan tak pernah pula ia mengamuk.

Yang teringat masih kamu, meski aku tak pernah berusaha untuk mengingat, dan kamu tak pula memaksa untuk diingat.

Meski jarak semakin nampak dan jelas, di suatu masa yang biasa-biasa saja, aku ingin kau tahu bahwa aku menyimpan rindu. Biar terucap begitu saja, tanpa rasa harap yang masih bersisa dan tanpa duka yang mengikat dilema. Aku tertawa sesudahnya, dan kamu juga menyambut dengan biasa bagai cerita yang tanpa nyawa. Jangan tersenyum dengan mata itu agar asa tetap tiada, dan jangan tersenyum kecut agar aku tak menghibamu yang terlambat menyadari adaku.

By: BETA CINTO ATI -HMSI 1

Aku siap terluka ?

Selasa, 31 Juli 2012


Ia memandangi hp-nya,tiba-tiba ada sms dari riko,ia membacanya lalu tersenyum,
Eh. .ke sekolah tu belajar bukan tidur,hkhkhkhkhk”
“Hmmm. .jam-jam segini tu udah jam nya ngatuk ko,”
“Gak tuh, gue aja gak ngantuk,”
“Itu kan loe bukan gue,hkhkhkhkhk”
Eh. . .harusnya yang ngantuk tu gue, gue aja yang tidur jam satu gak ngantuk,loe yang tidur jam 10 ngantuk,gak kebalik tuh ??”

“Yeeee. . .loe kan cowok,gue cewek,”
“Emang ada hubungannya ?”

“Anggep aja ada,eh. .emang loe gak ngantuk ya,kan loe tidurnya udah larut malam gitu,”

“Gak, ah, paling mata gue ketutup sendiri aja,hkhkhkhkh”
“Hkhkhkhkh,loe bisa aja,”
“Eh, charice,ntar loe sibuk gak ?”
(Dia mau ngapain ya ?siapa tau mau  ngajak gue jalan,hkhkh)Gak ko,emang kenapa ?”
“Hmmm. . .ntar loe mau gak nemenin gue ??”
“Kemana ?”
“Muter-muter aja sih,tapi ada yang pengen gue bilang ama loe,”

(Hah ??gila. .serius ne ?dia mau bilang apa ya ?)iya deh ko, langsung pulang sekolah ini ?”
“Iya rice,”
“Oke deh, tunggu gue di parkir ya,”
“Siip, CU. . “

Sejak sms itu,kantuk yang tadi mendera charice bak hilang di telan bumi,hatinya begitu berbunga-bunga,meski belum tentu semua itu membawa kabar baik baginya,hingga. .
“Rice,”
“Iya,mau kemana kita ko ?”
“Kita ke. .toko boneka,loe suka boneka kan ?”
“Hmmmm. .suka sih,. . “
“Kita beli ya,”
“Kok loe beliin gue boneka ?”
“Yaaaa. .pengen aja,emang gak boleh ?”
“Boleh sih,tapi. . “

Hingga di toko boneka,
“Loe suka yang mana ?”
“Yang ini deh,(sambil memeluk sebuah boneka teddy bear besar,)”
“Oooo ya udah, loe pegang ya,emmmm. .kalau. . . .”
“Kalau apa ?”
“Kalau gita sukanya yang mana ?”
“Gita ? loe kok nanya gita ?emangnya. . .”
“Emmm. . . gini rice, jadi,tapi loe jangan bilang-bilang dulu ya,”
“(Perasaannya mulai tak enak,pikiran negative menggerayangi fikirannya,)iya,”

“Ntar malem gue mau. .emmm. .nembak gita rice,tapi pake boneka ini,nah kayak di film-film tuh,ntar kan gue kasih boneka,kalau seandainya dia nerima gue berarti dia ngambil boneka ini,kalau dia nolak gue, gue suruh dia buang boneka ini,gitu deh. . gimana ? keren gak ?”

Satu kata itu mengoyak semua rasa di hati charice,menghancurkan semua harapan, impian, mimpinya tentang lelaki itu.Kristal bening telah membuncah di pelupuk matanya, namun banjir itu tertahan,hatinya hancur,tak bersisa,cinta yang selama ini ia sekap rapat di hatinya, semua rasa itu seakan mati mendadak, mulutnya menggigil, kakinya terpaku sulit untuk ia gerakkan,namun dengan dorongan telaga bening yang sudah sangat ingin keluar sedari tadi ia mencoba menggerakkan bibirnya dan menggerakkan kakinya.

“Ko. .gue ke toilet dulu, (sambil melempar boneka yang tadi di peluknya, dan ia berlari sekuat tenaganya menghilang dari hadapan riko.)”
Ia lari ke toilet terdekat yang ada di mall,

“Hikz Hikz Hikz Hikz Hikz. .”
Ia menumpahkan semua air mata yang di pendamnya sedari tadi,hatinya hancur,ia tak menyangka kalau selama ini riko hanya memberi harapan kosong untuknya,  perhatian riko selama ini tak lebih hanya untuk membalas kebaikannya pada riko, ternyata riko hanya memanfaatkannya untuk menggali informasi tentang gita, hanya untuk kepentingannya sendiri.

“Ko. .gue gak nyangka ternyata loe tu Cuma manfaatin gue doank ko, gue gak nyangka kalau loe suka sama gita, dan. . . gue tau ko gue gak kayak gita ko, gue gak secantik dia, gue gak seputih dia, gue gak setajir dia ko, dan. . . emang salah gue kali ya, udah sayang sama loe, salah gue udah cinta sama loe, salah gue udah biarin cinta ini hidup ko, salah gue. . . Hikz Hikz Hikz. . semuanya salah gue ko. . Hikz Hikz Hikz Hikz. . tuhan, kenapa engkau selalu membuat hamba seperti ini tuhan ? kenapa hamba selalu gak bisa memiliki orang yang hamba cintai tuhan ? kenapa. . . Hikz Hikz Hikz. . kenapa hamba gak kayak gita yang bisa dapet semua yang dia mau tuhan ? kenapa gita selalu bisa dapetin apa yang dia mau dengan mudah tuhan ? tapi kenapa hamba enggak ? kenapa tuhan ? apa salah hamba ? kenapa perasaan hamba selalu di permainkan tuhan ? kenapa. . . Hikz Hikz Hikz Hikz. .huft. . Lupain charice, lupain,lupain semua hal tentang riko, lupain senyum dia, lupain wajahnya, lupain semuanya . . . .hikzhikzhikz. .tapi gue gak sanggup, dia terlalu indah buat gue, dia terlalu berarti buat gue, dia terlalu berpengaruh buat gue, gue terlalu bergantung sama dia, Hikz Hikz Hikz Hikz . . .ko, loe tau gak, loe tu berarti banget buat hidup gue ko, gue sayang sama loe, gue cinta sama loe ko, tapi kenapa loe gak pernah ngertiin gue ? selalu gue yang ngertiin lo, gue tau kok ko, waktu gue ajak loe jjs waktu itu loe nolak kan, loe bilang loe lagi sakit, tapi gue tau loe pergi ke rumah gita kan., loe pergi sama dia, gue bisa terima ko, loe gak pernah nurutin mau gue, gue yang selalu nurutin mau loe, gue bisa ngerti ko, tapi bisa gak sedikit aja loe liat gue, loe mikirin gue ko, gue sakit ko, gue terluka ko, Hikz Hikz Hikz Hikz . .tapi. .mungkin loe emang bukan buat gue, Hikz Hikz Hikz Hikz Hikz . .gue tebus janji gue ko, gue siap terluka, dan gue juga siap kecewa. Makasih buat semuanya ko,makasih buat senyum yang udah loe ukir di bibir gue, makasih buat semua hal indah yang pernah kita laluin, makasih ko. . . Hikz Hikz Hikz. . gue tau ko, milikin loe itu mungkin Cuma sebuah mimpi indah di hidup gue, cuman sebuah cerita yang bakalan hilang saat gue terbangun dari tidur gue, Cuma. . . Hikz Hikz Hikz . .tapi makasih ko, seenggaknya loe udah bikin sedikit dari mimpi itu jadi nyata, makasih ko, “

Ia terdiam, tersudut di dunia yang besar ini, ingin rasanya ia berdiri di tebing yang pernah di pakai westlife dalam video klip my love nya, dan berteriak sekencang-kencangnya “Ko. . . gue sayang sama loe,” setelah itu melompat dengan bebasnya dan mendarat di lautan yang penuh misteri seperti hidupnya. Tapi ia hanya seorang gadis malang di dunia ini yang tak mampu melakukan apa-apa, yang bisa bersembunyi di balik senyumnya.

Tak lama kemudian setelah ia kuat rasanya menemui riko, ia keluar dari toilet dan menemui riko,tak lupa ia mencuci wajahnya dulu agar riko tidak tau bahwa ia baru selesai menangis,

“Ko. .(dengan suara seraknya, dan rasanya itulah suara terkerasnya saat itu, meski hanya terdengar lirih)”
“Duh. . .  rice, loe kemana aja sih ? masak lama banget di toilet,”
“Gue tadi. . susah nyari toiletnya ko,”
“Susah nyari toilet ? perasaan loe udah sering kesini deh, dan perasaan waktu gue pertama kali kesini loe deh yang nunjukin ke gue dimana toiletnya, kok loe sendiri bisa lupa sih dimana toiletnya ?”
“Enggggg. .  . tadi tu ada banyak orang, jadi gue linglung, lagian di toilet juga antri tadi.”
“Aaaaaa. . .  loe kalau udah rame loe jadi linglung ya. . .parah loe, masak iya gitu aja bisa linglung, loe kan udah sering kesini. . jangan-jangan. . .”

Sementara charice sedari tadi hanya memandangi riko,dalam hatinya berkata “Ko, jangan senyum lagi sama aku ko,itu akan bikin aku tambah terluka karena aku gak bisa milikin senyum itu.”
Kok bengong gitu sih rice ?”
Hmmmm.  . gak papa kok ko,gue Cuma pengen bengong aja,emmm. . kita pulang yu’.”
Laa kok pulang sih ? katanya tadi loe laper, kita makan dulu yuk.”
Gak ah ko, gue gak ada nafsu ko, gue pengen pulang, gue kangen sama kamar gue (dadanya sesak saat berkata, susah ia menahan air mata itu agar tidak keluar,ia ingin cepat-cepat pulang mengurung dirinya, dan menguatkan hati untuk dirinya sendiri.)”
Apa ? kangen sama kamar loe ? emang udah berapa tahun sih loe gak nginep disana hah ? hkhkhkhkhkh”

Hmmm. . gue gak tau, tapi satu hal yang gue pengen sekarang ko, ada di kamar gue,( air mata itu jatuh satu persatu,ia tak kuat lagi menahannya.)
Loh, rice loe kenapa sih ?”
Ayo kita pulang.”

Riko bingung dan heran kenapa tiba-tiba charice bersikap seperti itu,ia pun mengantar charice pulang, setelah itu charice tidak pernah lagi melihat hp-nya dan berniat meng-sms riko, malamnya riko hanya memberi tahu charice bahwa malam itu ia akan menembak gita, namun charice tak mau melihat hp-nya, bahkan 3 hari setelah itu ia tak pergi sekolah, ia hanya mengurung diri di kamar, nasi ia makan rasanya susah sekali untuk di kunyah dan di telan, tak ada lagi semangat hidupnya, semua impian dan mimpinya telah hancur, ia berusaha membunuh cinta itu namun ia tak kunjung mati,sakit, hancur, tapi ia tak tau harus melampiaskan pada siapa. Apapun yang ia lakukan ia selalu teringat riko, teringat akan semua hal-hal yang pernah mereka lalui bersama,baik itu indah maupun menyakitkan, ketika ia melakukan shalat, ia ingat waktu mereka shalat bersama di ruang osis sewaktu goro, saat ia makan, ia ingat waktu ia makan pizza bersama riko, saat ia tidur, saat ia mencoba belajar, apapun itu, selalu muncul ingatan tentang riko.Ia mencoba bertahan di tengah tajamnya duri kehidupan yang harus ia lalui,mencoba tegar meski hanya dimatanya sendiri.

Terjemahkan

 

Most Reading

Sidebar One